
Pada perkembangan zaman saat ini hampir semua orang selalu berorentasi kepada materi, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang menyebabkan manusia sampai melupakan bahwa yang mereka dapat adalah berasal dari Allah SWT. Kemajuan pemikiran yang kita rasakan akhir-akhir ini tidak menjamin suatu kebahagiaan dalam hidup. Bahkan fakta berbicara bahwa kegalauan hidup, kekeringan jiwa menjadi fenomena yang menjamur dalam setiap para ahli fisikawan karena tidak dibarengi dengan nilai-nilai spiritual pada pemikiran-pemikiran mereka.
Orientasi para ahli fisikawan
kali ini lebih mengedepankan kecerdasan intelektual, kecerdasan akademis dan
materialisme, menjadikan mereka bak robot yang otaknya hanya terperas demi
kepuasan diri sendiri. Sedangkan kebutuhan rohani mereka berupa pengajaran din (agama), tarbiyah dan tazkiah bagi
jiwa seakan tak mendapat porsi bagi waktu-waktu yang mereka jawab.[2]
Ilmu agama dapat dijadikan
penyeimbang dari ilmu sains, karena bila ilmu sains tidak diseimbangkan dengan
ilmu agama maka akan mengahsilkan kemajuan secara fisik tetapi kering dalam
aspek spiritual. Hal itu juga dikarenakan ilmu agama berjalan beriringan dengan
ilmu pengetahuan (Sains), sebagai sorang muslim tidak ada Islam tanpa
pengetahuan, oleh karena itu Islam terdiri dari ; pertama, pengetahuan, dan kedua,
mengamalkan pengetahuan itu dalam bentuk tindakan. Tak seorang pun bisa menjadi
muslim tanpa mengethui makna Islam dalam berbagai aspek, karena menjadi muslim
bukanlah atas dasar kelahiran, melainkan berdasarkan pengetahuan.[3]
Dapat disimpulkan bahwa selain
kita mempelajari tentang materi dan ilmu pengetahuan maka kita dianjurkan untuk
mengembalikan apa yang kita pelajari pada Sang Pencipta dan menarik benang
merah ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Dan juga perlu diketahui bahwa ilmu
sains juga memuat ayat-ayat Ilahi yang tidak boleh dipungkiri, supaya natinya
akan terbentuk ilmuwan yang agamis dan agamawan yang intelek.[4] Apabila
kita bawa ke ranah pendidikan maka akan terbentuk suatu terobosan yang baru
yaitu pengajaran mengkombinasikan antara ilmu agama (spiritual) dan ilmu sains.
Pengajaran yang seperti ini menggunakan pendidikan spiritual, dengan
menggunakan pendidikan spiritual pada pembelajaran di kelas diharapkan nantinya
siswa bukan saja mempunyai karakter bangsa tetapi mempunyai karakter keagamaan,
ini sesuai dengan yang diharapkan oleh Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
tahun 2003. Dan karakter yang tertanam dalam diri siswa jika menggunakan
pendidikan spiritual adalah integritas (kejujuran), energik (semangat),
wisdom (bijaksana), inspiration (banyak ide) dan spirit (kuat).
[1]Abdul Majid
Bin Aziz bin Aziz Al-Zindani, dkk., Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang
IPTEK, Gema Insani Press, Jakarta, 2002, Cetakan III, hal. 8.
[2]Ibnu Qayyim
Al-Jauziyyah –Ibnu Rajab Al-Hambali –Imam Al-Ghazali, Tazkiatun Nafs, Pustaka
Arafah, solo, 2007, Cetakan XVIII, hal. V.
[3]Abul A’la
Maududi, Menjadi Muslim Sejadi, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2001, Cetakan
V, hal. 50.
[4]Ari
Kusumastuti, Analisis Vektor kajian teori dengan pendekatan Al-Qur’an,
UIN-Malang Press, Malang, 2008, hal. Iv.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar